sejak aku ajak main game internet, Tata selalu merengek pengen main internet. Baru saja sehari ditinggal, dia sudah nelpon pengen main game lagi.
Di buku diarinya, tata nulis,
Tata aku ajarin juga nulis buku diary setiap habis main denganku.
Aku jarang dirumah. Aku selalu sempetin waktu untuknya tiap sabtu dan minggu. Aku jarang karena hubungan aku dengan mamanya lagi merenggang. itu terjadi sejak dua tahun lalu.
Di enrekang, dua tahun lalu, tata kenal komputer. Dia selalu main game Tarzan dan nonton Barnie si boneka.
Aku pisah setahun bersama tata dan mamanya. Mereka pulang lagi ke Bandung setelah bertahan hanya dua bulan di Enrekang.
Aku selalu berharap anakku tidak ketinggalan jaman dan cerdas. Setiap aku pulang dan bersama dia, aku selalu ajak dia baca buku, menulis. Aku pernah janji, kalo dia bisa belajar dengan baik dan rangking satu, aku akan kasih hadiah.
Di buku hariannya dia tulis begini,
Selengkapnya...
Kamis, 20 September 2007
Internet dan Tata.
Kamis, 06 September 2007
Menjadi Guru
aku punya kawan yang sekarang jadi guru. Kami dulu sama-sama aktif di Kampus. Dia di Hikmatul Iman dan saya di Sanggar Seni.
Sebenarnya, latar belakang dia bukanlah pendidik. Kami kuliah di IKOPIN dan banyak belajar ekonomi dan koperasi. Tapi dia sekarang guru. Bagi saya itu sebuah lompatan yang menarik.
"Bagaimana rasanya jadi guru," Kata saya.
" bebannya berat juga dan aku kadang malu sama teman-teman," katanya.
Beban karena harus menyesuaikan diri dengan pandangan masyarakat yang memandang guru sebagai orang yang perlu dicontah dan ditiru. " saat ini aku belum bisa menyesuaikan dan kadang merasa bahwa itu terasa berat dijalani, terlebih lagi aku tidak punya latar pendidikan untuk menjadi guru," katanya.
bagi saya, menjadi guru adalah tugas mulia. Ujung tombak yang membangun karakter dan kecerdasan manusia.
Aku pernah mewawancarai guru-guru dikampungku di Enrekang sana. Guru yang ada disana tidak bisa berbuat banyak karena banyak keterbatasan. Dana, Dana, dan Dana.
Guru punya waktu terbatas mengajari siswa. Dari pagi sampai siang. Setelah itu, pak guru itu menjadi kepala rumah tangga yang harus menyalakan kompor rumah tangga. Makanya urusan sekolah diluar jam belajar harus memiliki hitung-hitungan. Tidak ada itu, kami ogah-ogahan.
Dana menjadi persoalan. Menurut guru itu, tanpa dana yang cukup, perkembangan guru dan siswa terbatas.
Teman saya itu sudah tahu bagaimana menjual buku pada siswanya. Guru dikampungku juga sudah tahu kalo UAN sudah dekat, murid harus ikut Bimbingan Belajar dan bayar.
Selengkapnya...
Senin, 13 Agustus 2007
Merdeka
kemarin habis ngobrol dengan dosen. Kebetulan dia mampir lihat-lihat instalasi yang aku buat ma teman. "ni maksudnya apa ?" kata Dosen itu. Aku bilang tuk merayakan kemerdekaan pak, jawabku iseng.
"merdeka ? emang kamu sudah merasa merdeka ?" tanyanya. Saya sendiri tidak belum merasa merdeka. Beberapa hari lalu saya beli kaset lama iwan fals, saya renungkan syairnya, ternyata apa yang dikatakan iwan tahun 70an lalu sampai sekarang masih sama. Kondisi kita belum berubah. Mana kemerdekaan kita ?
Paling tidak merayakan kemerdekaan akademik dikampus kita, kata saya. sekarang ini saya tidak merasakan lagi kehangatan kampus seperti dulu. Kita masuk dalam kondisi purba, Datang, duduk, diam dikelas dan ketemu dosen yang cara ngajarnya terlalu seremonial. tidak ada lagi debat dikelas karena dosen lebih baik memberi imla, dan nyatat.
"Tapi dikampus ini, saya termasuk orang yang tak mau ikut arus, kalo ada yang saya lihat ga bener, saya ungkapin, saya tidak peduli dengan konsekwensi jika saya dikeluarkan nanti, dari dulu saya seperti itu," katanya serius menerangkan.
Ah........... semoga aja bener deh pak. semoga juga mahasiswa dapat pintar oleh anda-anda. dan semoga kita bisa merdeka bersama. Hidup kampus ! eh hidup Indonesia.
Selengkapnya...