Jumat, 25 September 2009

AMBE BAKKA

Tubuhnya yang tinggi, kurus sudah tidak seperkasa dulu lagi. Jalannya sudah ringkih. Matanya sudah sayu. Lakon sebagai penjaga sekolah masih saja dilakoninya hingga kini. Di sela-sela waktunya kini, ia juga menjadi pemulung sampah-sampah plastik.

Semua orang memanggilnya Ambe Bakka. Ia Hidup dengan Istrinya, Indo Bakka. Saya tidak tahu persis siapa nama istrinya yang sebenarnya. Yang jelas pasangan romeo dan juliet ini saksi perjalanan sekolah SMU 1 Enrekang atau yang dulu sebelum berganti nama disebut SMA 374. Tak ada rasanya siswa yang tidak mengenalnya, bahkan ia bisa menjadi cerita berseri bagi mereka yang pernah sembunyi-sembunyi merokok dikantinnya.

Ambe Bakka hidup di empat masa. Masa penjajahan jepang dan Belanda, Masa Orde Baru dan Masa Orde Reformasi. Namun hidup yang dilakoninya tidak beranjak dari lakon penjaga sekolah.

Saat reuni SMA kemarin, panitia reuni memberikan peghargaan khusus bagi the legend Ambe Bakka. Semua orang memberi aplaus yang panjang saat ia naik ke panggung. Kilatan lampu cahaya kamera menyorot mukanya.

Ambe Bakka hanya seorang Ambe yang hidupnya lurus-lurus saja. Pengabdian yang tulus patut diacungi jempol.

Read More......

Lebaran Di Lap. Abu Bakar Lambogo Enrekang









Read More......

Selasa, 25 Agustus 2009

Geliat Urban di Enrekang

Anak-anak muda enrekang sat ini sedang gandrung dunia Online. Warnet sudah bertebaran dimana-mana, bahkan area Hotspot juga sudah menjamur. Warnet sudah tidak dimonopoli lagi Oleh Kantor PDE. Sekarang ini, pencari Hotspot yang menenteng Laptop sudah semakin mobile.

Ini sebuah kemajuan bagi daerah yang jaraknya sekitar 200 Km dari Kota Makassar. Wabah Facebook dan Fokker juga menimpa generasi muda disini. Ini sebuah lompatan besar. Teknologi memang membuat orang sudah semakin dekat. Mari kita sambut, Kampung ini menjadi kampung yang sadar teknologi dan pelan-pelan meningkatkan kualitas manusianya.

Read More......

Rabu, 10 Juni 2009

Baju Korpri

Baju korpri pagi tadi yang kupakai belum menyatu betul dengan diriku. Aku masih selalu kikuk dibuatnya apalagi dipadu dengan sepatu kulit. Selama ini, aku kebanyakan pakai kaos dan jeans jika sedang bertugas sebagai wartawan dipadu dengan sepatu kats. Keseharian dengan tampil ala kadarnya itu memberi rasa percaya diri yang kuat untukku.

Tapi hari-hari esok baju kerjaku mulai berganti menjadi Coklat setelah SK Penempatan kerja sebagai CPNS di Dinas Kuperindag kuterima, Kamis (11/06). Walaupun sudah CPNS aku masih tetap memiliki jiwa kewartawanan. Dunia penulisan tidak bisa untuk ditinggalkan. Aku bermimpin suatu saat nanti aku harus mampu menulis buku.

Hanya yang berbeda kini, kebiasaan saat saat menjadi wartawan sudah harus disesuaikan dengan kebiasaan CPNS yang bangun pagi, Apel dan Uapacara Bendera. Saat menjadi wartawan dulu, waktu ditentulan sendiri oleh kita, kecuali Deadline.

Saya hanya berharap, dimanapun berada, tetap selalu ada yang terbaik yang dilakukan, menjadi Wartawan ataupun sekarang CPNS.

Read More......

Adikku Masih Sakit

Pagi-pagi aku sudah harus ke Rumah Sakit menggantikan Ibu menjaga adikku yang terbaring diruangan Latimojong 2 RSU Massenrempulu. Sudah enam hari dia dirawat disana. Kondisinya masih sama sebelum ia masuk. Badannya sudah semakin kurus, batuknya juga masih berlendir. Semalam malah sempat muntah. Katanya ia Bronhitis.

Saat awal-awal, ia sama sekali tidak mau di Infus. Katanya tangannya sakit. Tiap malam Ibu dan Bapak dengan sabar menemaninya disana. Aku juga selalu menyempatkan diri untuk melihatnya. Para sahabatnya juga sudah berdatangan menengok. Semua kaget melihat badannya yang sangat kurus itu.

Selain berobat di RS, ia juga dibantu dengan pengobatan tradisional. Kemarin, ia diurut dengan bawang merah dan disuruh mengunyah kunyit. Katanya untuk mencairkan lendirnya.

Disekujur badannya juga banyak bintik-bintik bekas gatal-gatal. Katanya ia terkena cacar sebelumnya tapi tidak dirawat sehingga bintiknya itu bekas bintiknya itu tidak keluar. Gatal-gatalnya melebar juga ke mukanya.

Sakit brinhitisnya semakin kambuh sejak ia nekat ke Makassar naik motor padahal sakitnya belum sembuh benar. Sebelumnya terjadi inseden antara ia dan adikku yang satu lagi. Dengan emosional dan tangis ia katakan akan ke Makassar. Saat itu Bapak hanya bisa mengiba. Ibu sedih bukan main walaupun ia tidak tampakkan di depan kami.

Adikku yang satu ini memang selalu nekat. Semoga saja ia bisa kembali sembuh dan melanjutkan kuliahnya yang tinggal beberapa tahun lagi ini. Doa teman-temannya juga selalu mengiringi. Kami pun menanti badannnya kembali seperti dulu lagi. Semoga ia akan ceria kembali esok nanti

Read More......

Rabu, 18 Maret 2009

Wartawan VS PNS

Menjadi pencari berita di Parepos entah sampai kapan saya harus lakoni. Teman-teman di Kantor selalu bertanya, kalo uda masuk kerja (Berbaju Coklat), apa kamu masih menulis. bagi saya, menjadi wartawan dan atawa penulis sama saja. Penulis bisa saja menulis dimana dan kapan saja, dan wartawan juga tetap menulis berita untuk dipublis. Mungkin memang ruangnya sudah beda.


" Mungkin karena aprisiasi dan ruang medianya berbeda, kalo wartawan, tulisannnya bisa dibaca tiap hari, penulis entah kapan tulisannya dibaca," kata teman saya.

Saya selalu mendambakan bisa bekerja di media guna mengasah cara menulis saya. Pengalaman tiga tahun dimedia belumlah cukup. Saya bercita-cita suatu waktu nanti, saya harus menulis buku. Dan bergabung dengan media adalah jalannya.

Semoga saja masih ada ruang untuk saya nanti kelak walaupun sudah berbaju coklat.

Read More......

Kamis, 19 Februari 2009

Sketsa Mimpi Galeri Macca Tahun Ini

Beberapa hari yang lalu, Parepare disibukkan dengan kegiatan-kegiatan yang bertemakan Pendidikan. Mulai dari pencanangan Buta Aksara, Peletakan Batu pertama pembangunan sekolah untuk pencanangan penuntasan wajib belajar 12 tahun, hingga pada pencanganan gerakan gemar membaca dan lomba penulisan surat untukmu walikotaku.

Dalam rangkaian itu pula, ada pameran buku Gramedia Fair. Kegiatan itu semua dirangkai dalam memperingati Hut Parepare yang ke 49. Parepare memang bercita-cita mewujudkan dirinya sebagai kota Pendidikan. Sebelumnya, pada tahun yang lalu pula di Parepare sudah ada gerakan Masyarakat Parepare Gemar Membaca (Mappamacca) yang digawangi beberapa pemerhati pendidikan dari PLN, Guru hingga wartawan Parepos. Gerakan seperti ini di Makassar dinamai Gerakan Makassar Gemar Membaca (GMGM).

Lantas, apakah Enrekang sebagai kota yang juga mulai mengeliat dengan berbagai proyek infrastrukturnya itu mampu mengklaim diri berbuat seperti itu ?


Berkaca dari Parepare, Galeri Macca Enrekang pun memiliki program dan mimpi yang sama dengan apa yang diperbuat oleh para pemerhati pendidikan di Parepare itu. Untuk itu, pada tahun ini, Galeri Macca akan menelorkan beberapa program-programnya. GM singkatan dari Galeri Macca itu, menggumamkan angka tiga, lima, delapan dan dua belas sebagai dasar berbuat.

Kenapa angka-angka itu ?

Dibulan tiga nanti, GM akan melakukan konsolidasi internal untuk membicarakan pemantapan beberapa konsep yang akan dilakukan sebagai pijakan dasar. Dibulan tiga itu nanti akan dibahas beberapa kegiatan bertemakan pendidikan yang selama ini jadi pijakan dasar dari visi GM. Diantara kegiatan yang sudah menjadi agenda antara lain, Pameran Lukisan dan Foto dua kota (Parepare dan Enrekang ) dengan rangkaian kegiatan lomba mewarnai, menggambar dan melukis. Kegiatan ini rencananya akan dilakukan di Bulan mei (5) nanti.

Lalu, dibulan Agustus (8) nanti, GM juga merencanakan akan mengadakan pementasan teater yang kedua kalinya, setelah pada pementasan pertama mengangkat naskah ketika Ratu Sakit. Selain pertunjukan teater, rencananya juga akan ada peluncuran antologi Puisi anak Maspul.

Dan dibulan Desember nanti, akan digelar program sebagai program pamungkas yaitu menggagas gerakan yang sama dengan dua kota makassar dan Parepare itu yakni, Gerakan Enrekang Gemar Membaca ( Nama gerakan ini akan dikonsultasikan dengan memakai nama yang mencirikan daerah Enrekang ). Di puncak kegiatan ini akan digelar juga beberapa kegiatan-kegiatan tentunya.

Galeri Macca sering berpikir, Sebagai kota yang jaraknya dari Parepare sekitar 80-an kilometer dengan jarak tempuh kurang lebih satu setengah jam, Enrekang sebenarnya bisa saja melakukan hal seperti itu. Sekarang tinggal bagaimana konsolidasi internal itu bisa berjalan dengan baik dengan kerja tim yang baik.

Faktor kendala yang selama ini menghambat kegiatan-kegiatan dari GM tentu adalah faktor pendanaan. Namun, tetap dalam setiap kegiatan GM, anak-anak GM selalu termotovasi untuk menujukkan dan menuntaskan setiap kegiatan yang telah disusun dengan terus berpikir " Dana Minim pun kita Bisa ciptakan yang kita iginkan,"

Namun, tentu, untuk kegiatan Tiga, Lima, Delapan dan Dua Belas itu, GM tidak bisa lagi harus begitu saja berdiam diri tanpa mencari sponsorship dan mitra.

Satu harapan yang besar, semoga saja kegiatan ini akan bergelontor sesuai dengan yang diharapkan. dan semoga ada beberapa pihak yang mau menyumbangkan ide ataupun bantuan ....... ( Dananya )

Salam Anak-Anak Galeri Macca

Read More......

Minggu, 08 Februari 2009

Main Tanpa Batas

Suara riuh anak bersepeda tiap hari selepas pulang sekolah sampai tengah malam terus terdengar. Capek ? Sepertinya tak mereka rasakan. Main mungkin itu dunianya.

Bermain sepeda bagi anak-anak kampungku memang sedang ngetren. Disini, tidak ada cara lain selain melampiaskan kesenangan dengan terus bermain. Mencari tempat bermain memang agak sulit. Sebelum musim sepeda datang, musim main bola dijalan pernah marak. Dan mungkin agaknya jika bersepeda sudah mulai mereka bosanin, bermain bola pasti akan marak lagi.


Dulu, aku juga seperti mereka. Bersepeda kemana-mana. Bersepeda mencari pacar. Bersepeda tiap minggu ke Lewaja. Sungguh, melihat mereka seperti melihat masa kecil dulu. Tapi dulu agak beda. Orang yang naik motor belum banyak. Makanya sepeda bagi anak yang baru GD masih biasa. Sekarang ? mana ada anak-anak yang SMP apalagi SMA yang mau melakoninya.

Dimana-mana " Anak Kucing" yang sudah bercelana biru sudah pada pandai berkendara motor. Anak kucing istilah temanku Dadank. Anak kucing adalah ABG yang sedang mekar mencari jati diri dan siulan para lelaki.

Ah, Enrekang. Kalau tidak dengan keriuhan anak-anak dan keliaran para ABGnya, Kotanya menjadi sangat sunyi dan hanya angin malam yang bergosip dengan bulan. Jalan sepi senyap

Read More......

Minggu, 01 Februari 2009

Asing.

Siapa yang pernah mengukur kedalaman matamu. Tak pernahkah kau hidup dengan kasih sayang.

Ini memang sudah kuduga. Kau datang, maka yang kau bawa hanya yang dulu. Sesuatu yang tak pernah ku sukai. Kenapa harus ada perbedaan. Kenapa tak ada konfromi. Kenapa keinginanku untuk berapresiasi harus terhenti lewat tangis anakmu yang kau bisikkan.

Aku tak pernah lupa, jarak yang pernah ada membuatmu kesepian. Tak pernah kulupa betapa kau inginkan aku. Kau inginkan untuk mejadi anjing penjagamu. Ketika gelombang amarahku datang, kau dengan pintarnya mengatakan akan kulakukan apa maumu.

Yang aku tahu, kau selalu lupa pada kalimatmu tentang kebebasanku. Tentang mimpi-mimpiku. Kau selalu bilang, aku mengerti luar dalammu. Kau sebut itu saat rasa dariku mulai menjauh.
Kenapa kau masuk lagi dalam lingkaran yang hampir membuat kita berjarak ? Kenapa harus kau lempar lagi sauh hanya untuk membelah ombak ?

Ternyata memang susah. Sedari dulu, ketidak bebasan membuat orang akan berontak. Dan kau senang dengan pemberontakan untuk memuaskan dahaga gilamu. Menyiksa bathinku.

Read More......

Rabu, 21 Januari 2009

Tragedi Teratai Prima










Read More......