Jumat, 07 Desember 2012

Nyanyian Kanak-kanak Tergerus Jaman.

Waktu kami kanak-kanak, kami biasanya bermain dijalan, dibawah kolong rumah atau kalau hujan, kami main hujan-hujanan. Kalau musim mangga, kami pergi mencari mangga. Kami, saat masih SD, mengenal banyak permainan. Kadang kami pergi cari bambu, yang kalau sudah pulang kena marah, hanya untuk bikin senjata-senjata. Bambu itu kami potong sepanjang 15 cm, kemudian membuat gagangnya dan memberi kayu untuk menusuk peluru masuk ke lubang bambu. Pelurunya dari kertas koran yang dibasahi. Kalau malam, permainan yang populer bagi kami yakni main sembunyi-sembunyi. Biasanya kami saling memanggil dari rumah kerumah teman jika baru dua tiga orang yang kumpul. Ada beberapa permainan yang jika dimainkan kami bernyayi bersama. Ada main "Cicci Lojo", " Ledos-Ledos (serupa main kereta-kereta api)", " Cuncumpene ", dan " Kacang-kacang panjang" Kalau main " Cicci Lojo ". Permainan ini serupa dengan main kucing-kucingan. Untuk mencari kucingnya, salah seorang membuka tangannya (seperti meminta), kemudian jari telunjuk kami melekat ke Tangannya, kemudian bersama-sama bernyayi. Ciccillojo samanna lojo Sarepuna tonjo Cappuuuuuu. (Bersamaan dengan kalimat "Cappuu", kami semua harus berlomba mengangkat telunjuk agar tidak dipegang oleh teman yang membuka tangannya, kalau tidak ada yang tertangkap, kemudian kembali telunjuk disimpan ditelapak tangan dan mulai lagi menyambung nyanyian) Pisang goreng coklat enak lagi Ekor macannnnn (Kami kembali mengangkat telunjuk pas saat nyanyian " Ekor Macan" kami lagukan.) Kalau belum ada telunjuk teman yang didapat kami meluai lagi dari awal bernyanyi. Begitu terus sampai ada yang dapat. Beberapa nyanyian diatas ingin kami tulis, kumpulkan dan kembali ingin diperkenalkan kepada kanak-kanak. Nyanyian-nyaian kanak-kanak itu sudah tidak pernah terdengar lagi. Sekarang, anak-anak sudah mengenal Game. Baik Game online, Game komputer dan lain-lain. Masih ada yang hafal lagu main-mainan anak-anak seperti diatas ? Kalau ada, tulis dalam kolom komentar ya... Saat ini, bersama anak SMK Latanro yang tergabung dalam Komunitas Anak Latanro (Koala), kami juga ingin membawakan lagu-lagu itu dalam pentas Teater. Masih ada yang hafalkah ? Selengkapnya...

Jumat, 10 Agustus 2012

Sepeda " Macca"

Belakangan ini, orang-orang mulai malas bersepeda. sepeda-sepeda yang dulu beseliweran dijalanan kini terparkir begitu saja dirumah-rumah. Sama seperti nasib sepeda-sepeda yang lain, sepedaku juga hanya menghuni beranda rumahku saja. Sesekali dipakai anak-anak, namun lebih banyak menjadi penjaga rumahku. Bike To Work yang pernah marak setiap hari jumat kini tinggal seruam saja. Tulisan-tulisan Hati-Hati Anda Memasuki Kawasan Bersepeda yang ada disetiap sudut Kota Enrekang sudah tidak ada lagi artinya. Sepeda yang sempat menjadi trend ini hanya mampu bertahan beberapa bulan saja. Kalau istilah warga, trend seperti ini hanya panas-panas tai ayam. Begitulah Enrekang. Trend-trend warga muncul dan cepat menguapnya. Trend-trend yang sempat muncul yang juga Fenomenal adalah Ayam Ketawa. Dulu juga sempat ada beberapa anak muda yang main skateboad, sekarang muncul lagi komunitas motor trail. Dan seperti pepatah, orang sudah memprediksi, trend itu pasti hanya trend-trend-an saja. Kalimat yang bernada negatif itu juga muncul saat kami membuka Cafe Macca dipinggir sungai Mata Allo, tepatnya didepan Kantor Kejaksaan. " Paling juga bertahan sebentar saja, lalu ilang," begitu nada-nada itu muncul. Dibulan Ramadhan ini, tidak ada aktifitas di Cafe Macca. Kami tutup. Kegiatan-kegiatan yang sudah dirancang untuk Bulan Agustus bergeser dibulan September nanti. Saat membuka Cafe Macca, konsep pertama yang kami tawarkan adalah Nongkrong minum kopi sambil baca buku. Namun, buku-buku yang kami siapkan disana hanya menjadi hiasan tanpa tersentuh. Mengajak orang untuk membaca memang tidak mudah. Agar buku-buku itu bisa dilirik banyak orang, buku-buku itu harus bergerak. Maka muncullah ide membuat Sepeda Macca. Konsepnya, Sepeda itu menarik gerobak berukuran mini yang ditarik sepeda. Digerobak itu nantinya, buku-buku itu akan dibawa menyambangi sekolah, kampus dan tempat-tempat ramai. Selengkapnya...

Rabu, 11 Juli 2012

Agenda Bulan Juli Macca Cafe

Memasuki bulan kedua, minggu kedua di bulan Juli ini, Macca Cafe kembali menggelar lomba menggambar untuk anak-anak. Kali kedua ini, ada empat orang anak yang ikut. Acara kecil-kecilan ini akan terus berulang tiap bulannya di minggu kedua, di hari rabu. Dan untuk menyambut dan menyemarakkan bulan suci Ramadhan, Macca Cafe akan menggelar festifal film bertema Islami, Lomba Baca Puisi anak SD dan menggelar kreasi seni Cahaya Perahu Kertas dialiran Sungai Mata Allo. Selengkapnya...

Senin, 02 Juli 2012

Macca Cafe

Langit kembali Mendung. Mereka yang bersantai ditepian sungai mata Allo, sungai yang membelah kota Enrekang was-was. Hujan mungkin saja turun seperti malam kemarin yang membuat fans spanyol dan italia menggigil menanti pehelatan final uero 2012. Hujan itu juga menjadi penanda. Sudah sebulan ini, Macca Cafe yang kurintis bersama teman-teman di Galeri Macca melayani penikmat kopi dikala sore dan malam hari. Sudah sebulan, cafe yang berada didepan kantor kejaksaan ini berdiri. Macca Cafe awalnya ingin menghadirkan suasana santai menikmati senja dipinggir sungai sambil baca buku dan minum kopi. Ada puluhan judul buku kami suguhkan. Merangsang budaya baca, itu yang jadi tujuan kami. Tapi, sebulan ini, buku hanya menjadi saksi saat kami melayani kaum muda yang nongkrong disini. Buku hanya diam. Tentu kami tidak putus asa dengan itu. Jalan panjang sudah dibuka. Selain melayani pembeli kami juga mencoba membuat kegiatan-kegiatan untuk menghangatkan suasana Cafe. Sebulan ini kami sudah menggelar tiga kegiatan. Ada lomba menggambar motor vespa, nonton film karya anak SMA Neg 1 Enrekang. Dan Terakhir kami menggelar malam apresiasi baca puisi. dan hari Rabu menjadi pilihan kami mengelar kegiatan-kegiatan itu. Rencananya kegiatan itu akan terus kami lakukan tiap bulannya. Hari Rabu kami jadikan hari berkreasi. Kopi, Roti dan suasana menjadi teman disini. Welcome to Macca Cafe. Selengkapnya...

Minggu, 29 Januari 2012

Jelajah Sepeda Lima Kecamatan ( Fajar Gorup dan ECC). (Habis)

Melewati Hutan Asri dan Melibas Malam dengan Sepeda..

Tim Jelajah sepeda sudah melalui perjalanan panjang dari Enrekang-Baraka-Bungin-Nating. Melibas jalur sepanjang 90 Kilometer. Saya dan Sidik (Wartawan Fajar) bersama teman-teman dari Enrekang Cycle Community (ECC) semakin akrab dan kompak. Tiga Hari dalam perjalanan naik sepeda membuat kami seperti satu keluarga.

Tim kami masih lengkap. Selain saya dan Sidik, masih ada sandi dan Risal (Tim logistik dan evakuasi). Om Iful, Immang , Ibon's, Yunus (siraja tanjakan), Amri, Andi, Iccang dan Appang.

Bungin yang berkesan akan segera kami tinggalkan. Nating tidak pernah akan kami lupakan. Diantara kenangan-kenangan itu, Syaifullah Panama adalah orang yang berbahagia diantara kami saat di Nating. Ia merayakan kelahirannya yang ke 45, saat di Nating. " Terima kasih buat teman-teman yang selalu memberi semangat, dan semoga sisa usia saya ini masih bisa memberikan yang terbaik," kata Om Iful, begitu kami menyapanya.

Tibalah kami harus meninggalkan Kecamatan Bungin menuju kecamatan Maiwa. Camat Bungin A. Fadli melepas kami dengan haru. " Terima kasih, sudah membuat Bungin jadi spesial bagi teman-teman," kata Fadli. Sekcam Bungin, Ridwan Palembai yang kami sapa Babe akan menuntun kami menuju perbatasan Bungin-Maiwa-Tapong. Babe membawa mobil, juga sesekali naik sepeda bersama kami.

Jalur yang kami lalui masih berbatu. Kadang pula masih tanah coklat. " Kalau hujan, pasti jalan sudah licin dan berlumpur disini," kata Babe. Tanjakan ?, jangan dikira sudah tidak ada, hampir sebagian jalan menuju Desa Banua perbatasan Bungin-Maiwa menanjak terus. Sesekali kami mendapat jalur bonus yang menantang dan barbatu-batu. Jalur Bungin-Maiwa hampir bisa dipastikan tidak bisa dilalui kendaraan Roda Empat kecuali mobil yang berhandle. Jarak Bungin-Banua sekitar 18 Kilometer.

Kami melewati jalur hutan alami. Hawa sejuk perjalanan terasa sekali padahal, kami tinggalkan Bungin tepat pukul dua siang hari. Saya sempat mencuim aroma cengkeh dalam perjalanan. Kadang pula melewati warga yang membawa tuak manis. Warga perbatasan masih banyak yang membuat gula merah. Ditengah perjalanan, kami sempat mencicipi Sori (Gula merah yang agak lunak yang dimasukkan dalam bambu).

Saat sore sudah tenggalam, kami istrahat sejenak di rumah Kepala Desa Banua Dasi Jaga. Hutan di Banua masih asri. Kami masih mendengar celetukan monyet yang nyaring. Dasi Jaga menjamu kami di rumahnya. Dengan bercanda, Dasi jaga mengatakan ia lebih memilih diminta datang ke Kota Enrekang tujuh kali bolak-balik daripada musti ke Bungin sekali. " Jalan menuju bungin masih parah dan susah dilalui motor," kata Dasi jaga.

Banua dihuni kurang lebih 600 KK. Warganya banyak yang menanam coklat dan kemiri. Salah satu dusunnya juga ada yang menanam Kopi Arabika. " Disini juga masih banyak warga yang membuat gula Aren," kata Dasi Jaga.

Usai sholat magrib, Banua yang jaraknya dari ibukota Enrekang sekitar 70 kilometer, kami tinggalkan. Perjalanan kami lanjutkan menuju Desa Tapong yang jaraknya sekitar 35 Kilometer. Kami menembus malam dengan sepeda. Babe (sekcam Bungin) masih mengikuti dan menyenter kami dengan lampu mobilnya. Keringat melibas tanjakan dan campur dorong membuat suasana malam semakin asik. Risal (Tim Evakuasi) selalu sigap memberikan kami air. Sementara Sandi juga ikut membantu menyinari jalan dengan lampu motornya. Tiap sepeda sebenarnya di lengkapi lampu. Tapi cahayanya tidaklah terang menyenter jalan yang menyusuri hutan-hutan.

Tim jelajah menyempatkan istirahat di Desa Baringin dirumah warga. Makan malam disana. Risal yang sejak di Banua selalu mencari WC karena perutnya sakit, lagi-lagi berurusan dengan WC di Baringin. Cap pengamat WC akhirnya tertanam setiap ia dipanggil. " Disini warga sudah sadar akan kebersihan MCKnya teman, semua WCnya bersih-bersih," kata Risal bak pengamat.

Anjing seperti melepas saat Tim meninggalkan Baringin. Sepanjang jalan, dihampir tiap rumah, anjing keluar kejalan dan terus menggonggong. Untungnya tidak ada yang dikejar dan digigitnya. Kalau kena rabies, bisa bahaya.

Lepas dari Desa Baringin, kami lagi-lagi menembus malam yang gelap. Beberapa teman ada yang mendengar suara-suara aneh. Bahkan saya, sempat disapa anak kecil yang berdiri didepan rumah yang gelap ditengah hutan. " Hati-hati pak, sudah malam," kata anak ditengah gelap itu. Saya hanya berterima kasih dan tak berpikiran aneh. Rupanya hanya saya yang disapanya, Tidak ada diantara Tim yang mendengar suara itu.

Disusun Tempe-Tempe, tanjakan tinggi lagi-lagi menghadang. Yunus siraja tanjakanpun KO. Baju sudah basah keringat. Kami lagi-lagi harus menuntun sepeda. Jam di tangan Amri sudah menunjukkan pukul 11 malam.

Akhirnya tepat jam dua belas malam kami sampai di Desa Tapong. Panitia persiapan pelantikan Kades Tapong Farmila, Kades Perempuan Pertama di Enrekang, menyambut kami. Kepala Bapemdes Imran Bidohang juga tampak disana. Kami di jamu makan malam sebelum istirahat.

Rupanya, jadwal naik sepeda Bupati Enrekang Haji La Tinro La Tunrung bersama rombongan berubah. Awalnya, rombongan yang kebanyakan pejabat itu akan kembali ke Enrekang melalui jalur Tapong-Enrekang usai pelantikan Kades. Mereka membawa sepeda mereka menuju ibukota Kecamatan Maiwa. Tim yang sudah terlanjur sepakat dengan Jalur Tapong-Enrekang akhirnya melanjutkan perjalanan Menuju Enrekang, berpisah dengan rombongan sepeda pejabat.

Siang sudah terlanjur datang saat kami beranjak dari Tapong. Panas sangat menguras tenaga. Jalur yang kami lalui berbeda dengan jalur di Wilayah Baraka-Bungin. Walaupun panas, udara disana masih tersa dingin dan rindang oleh pohon. Jalur Tapong-Enrekang membuat kami sering rehat menyegarkan nafas. Kami masuk kota Enrekang saat Sore hari. Tim beriringan dengan tertib. Tim jelajah sepeda Lima Kecamatan pun kembali berkumpul di RSU Massenrempulu. Ridwan Palembai (Babe) membubarkan Tim jelajah sepeda yang melibas 150 Kilometer lebih di Lima Kecamatan. Akhirnya, Kami pulang membawa cerita dan kenangan.

Masih ada Tujuh Kecamatan yang belum diselesaikan. Semoga masih ada cerita dilain hari. Sukses, Fajar Group (Radar Enrekang dan Parepos) bersama Enrekang Cycle Community. (Habis)
Selengkapnya...

Jelajah Sepeda Lima Kecamatan ( Fajar Gorup dan ECC) Bagian Ketiga.

Ekspedisi Nekat, Menggapai Prestise dan Kebanggaan.

Ahmad Yunus dan Farid Gaban, dua orang jurnalis pernah mengelilingi wilayah-wilayah terpencil di Indonesia dengan sepeda motor. Penjelajahan itu mereka namakan Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. Catatan perjalanan mereka ditulis Yunus dan melahirkan buku " Meraba Indonesia, Ekspedisi "Gila" keliling Indonesia".

Dalam pengantar bukunya, yunus mengatakan banyak orang yang ingin mengenal Indonesia. Ia yakin, ia tidak sendirian. Banyak orang yang memiliki perasaan yang sama dengannya. " Nusantara akan melekat dalam benak orang yang pernah dan punya pengalaman berkeliling Indonesia. "Sungguh saya beruntung melihat indonesia dari dekat dan meleburkan khayalan tentangnya," kata yunus dalam bukunya.

Buku Meraba Indonesia memberikan inspirasi bagi kami melibas Lima Kecamatan di Enrekang. Enrekang memiliki 12 Kecamatan. Dalam Ekspedisi jelajah sepeda ini kami hanya memilih lima Kecamatan yakni Enrekang, Anggeraja, Baraka, Bungin dan Maiwa.

Kenapa Harus Sepeda ?. Sidik Manggala (wartawan Fajar) mengatakan sepeda saat ini lagi trend di Enrekang. " Kenapa tidak sekalian kita buat sesuatu dengan sepeda," kata Sidik.

Sudah banyak orang yang berkeliling Nusantara dengan sepeda. Tapi mungkin baru kami yang melakukan ini di Enrekang. Ada kebanggaan dan prestise tersendiri yang dirasakan Tim Jelajah dalam Ekspedisi nekat ini.

" Ada cerita yang bisa disimpan untuk anak cucuku nanti," kata Andi, salah satu anggota Tim dari ECC.

Dan kenekatan kami ini sudah kami buktikan melewati jalur Enrekang-Baraka sepanjang 30 Kilometer di hari pertama, Baraka-Bungin sepanjang 40 kilo meter di hari kedua. Hari ketiga perjalanan dilanjutkan ke Dusun Nating, Desa Sawitto, yang masih dalam wilayah Kecamatan Bungin dengan jalur yang menanjak menyusuri tiga gunung dengan jarak 10 Kilometer. Perjalan nekat ini sudah kami tempuh sepanjang 90 kilometer.

Camat Bungin A. Fadli Hakim masih tidak bisa percaya kalau Tim Jelajah Sepeda Lima Kecamatan (Fajar Group dan ECC) bisa menembus Bungin dengan Sepeda. Apalagi mau melanjutkan perjalanan menuju Dusun Nating yang jauh diatas gunung.

" Saya masih tidak bisa percaya, teman-teman datang kesini dengan sepeda," kata Fadli geleng-geleng kepala.

Hari ketiga Tim jelajah sepeda melanjutkan perjalanan menuju Dusun Nating. Nating memberikan daya tarik tersendiri bagi Tim jelajah sepeda. Nating selama ini dikenal sebagai daerah penghasil kopi arabika. Nating berada di atas ketinggian 1400 dpl.

Di Nating, kami ingin melihat langsung pohon kopi yang usianya sudah ratusan tahun. Menurut kabar yang kami dapat sebelumnya, pohon kopi itu besarnya seperti pelukan tiga orang yang berpegangan membentuk lingkaran. " Besar sekali kan," kata saya memanas-manasi sidik.

Jalur menuju Nating menanjak terus. Jalannya sempit, hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Sisi-sisi jalannya banyak jurang yang menganga. Lengah sedikit bisa terpental kedalamnya. Kami melawati kebun-kebun warga. Jalan yang terus menanjak membuat kami banyak mendorong. Syaifullah Panama (Om Iful) mengistilahkan TTB (Tuntun Terus dengan Baik)

Ditengah perjalanan, ban sepeda Firman Agam (Immang) bocor. Jalur sudah kami lalui dua jam lamanya. Untung sudah ada persiapan ban yang dibawa. Saat ban diganti, Daus (40), salah satu warga Nating yang baru pulang menjual Cabe dari Baraka menghampiri kami. Ia tidak percaya kalau kami ingin ke Kampungnya. " Mau terus naik dengan sepeda ?" tanyanya dengan nada heran.

Perjalanan Nating adalah perjalanan yang mengesankan sekali. Haus dan lapar mendera tim dalam perjalanan. Sepertinya Nating selalu menjauh dari kami. Setiap kali bertemu warga yang berjalan kaki atau yang naik motor, kami pasti selalu bertanya. Dan Jawabannya selalu sama, sudah dekat, tinggal beberapa kilo lagi. Tapi Nating tidak juga muncul-muncul.

Akhirnya, setelah lima jam mendaki dengan sepeda, kami pun tiba disambut Hujan. Dingin yang pelan menyerang tubuh mendapat kehangatan kopi Nating. Kamaruddin (40) tuan rumah yang ramah menyuguhkan kami Kopi asli yang cukup terkenal itu.

" Kaya mimpi kami bisa liat orang datang kesini dengan sepeda. Orang naik motor saja jarang," kata Kamaruddin.

Arabika. Itulah yang membuat kami ingin mendaki ke Nating. Dusun Nating, berbatasan langsung dengan Luwu. Menurut Kamaruddin, di Nating ada sekitar 100 ribu pohon pohon kopi.
" Disini ada dua kelompok Petani Kopi dengan jumlah anggota sekitar 25 orang, setiap orang punya pohon kopi sekitar 2000 pohon" kata Kamaruddin, bapak tiga anak.

Kamaruddin mengatakan, kendala yang dihadapi petani di Nating adalah persoalan pupuk. Angkutan dan harga pupuk mahal. Pupuk sampai Nating sekirar ratusan. " Padahal di kota kecamatan cuma 70 ribu," kata Kamaruddin.

Di Nating, Pemerintah menyiapkan lahan 30 hektar untuk peremajaan kopi arabika typica. Kopi jenis ini pernah melegenda karena cita rasa dan aromanya. Pemerintah menyediakan 80 ribu bibit untuk peremajaan dan dikelola kelompok tani riwang.

Kami penasaran dengan Cerita Pohon kopi besar. Menurut Kamruddin, pohon kopi itu ada di kampung Pujappo dusun Katabi yang berbatasan dengan Dusun Nating. " Tapi batangnya cuma sebesar paha orang dewasa, umurnya kurang lebih 20 tahun," kata Kamaruddin bercerita.

Ternyata, pohon kopi tua itu hanya sebesar paha, bukan seperti yang kami bayangkan sebelumnya, sebesar pelukan tiga orang dewasa yang berpegangan. Kami, tidak sempat melihat pohon itu. Tempatnya jauh diujung lembah. Kami hanya bisa membayangkjan saja bagaimana besarnya pohon kopi yang sudah tidak berbuah itu.

Matahari pagi sudah menyinari Nating saat kami sudah siap meninggalkan Kampung yang memberi kesan. Anak-anak sekolah SDK Nating sudah memenuhi jalan-jalan setapak. Mereka kebanyakan tak memakai sepatu. Ada juga yang hanya pakai sendal.

Tahun 2007 Nating tadinya mau di relokasi ke daerah kampung baru. Namun warga menolak. " kalo kami pindah kesana tidak ada yang urus kopi. Disana kami tidak bisa berbuat apa-apa, padahala kami mau makan," kata Kamaruddin.

Hangat matahari masih terasa saat kami tinggalkan Nating. Jalan terjal yang terus menurun justru membuat nyali kami terpacu. Dua jam kurang, kami sudah sampai di Ibukota Kecamatan Bungin. Tim rehat sejenak. Usai sholat dhuhur Tim melanjutkan perjalanan menuju Desa Tapong.

(Bersambung)
Selengkapnya...

Jelajah Sepeda Lima Kecamatan ( Fajar Group dan ECC) (bagian kedua)

Melibas Jalur Panjang menanjak, Membuktikan nyali mengenal lebih dekat Bungin.

Laporan : Naim Muhammad 

Baraka masih sepi saat saya, sidik dan sandi berkeliling Kota Baraka. Belum ada aktifitas warga yang cukup berarti. Kami mengelilingi Pasar Baraka. Tanda-tanda ramainya pasar belum terlihat. Kami sarapan didepan pasar.

Firman Agam (Immang) dan Yunus Baharuddin (Yunus), mencari peralatan sepeda.
Syaifullah Panana ( Om Iful), dan Iwan Bone (Ibon's) mengecek kondisi sepeda.

Jadwal Tim jelajah sepeda dihari kedua akan menyusur rute Baraka-Bungin sepanjang 70 Kiloter. Tim jelajah sepeda lima kecamatan memiliki semangat ganda menuju Bungin. Tim ingin membuktikan kalau rute Bungin bisa di Capau dan sekaligus memecahkan rekor bersepeda menuju wilayah yang dulunya disebut terisolir. Bungin menjadi Obsesi awal dalam perjalanan jelajah sepeda ini.

" Saya ingin menulis tentang Bungin, dan bersepeda menuju kesana memberi pengalaman yang mengensankan pastinya," kata Sidik Manggala.

Teman-Teman ECC juga punya Obsesi yang sama. Menurut mereka, Tantangan dan mencari pengalaman bersepeda menuju daerah-daerah dipelosok Enrekang memberi kepuasan. " Bersepeda bukan hanya untuk olah raga tapi kami selalu ingin mencari tantangan," kata Ibon's, salah satu anggota ECC.

Walaupun baru berumur dua bulan, Sebagai organisasi, Enrekang Cycle Community (ECC) yang dipimpin Sutrisno, sudah punya pengalaman menaklukkan tanjakan-tanjakan dan pelosok-pelosok di Enrekang. " Tapi baru kali ini, kami bisa bersama Fajar Group melibas lima Kecamatan," kata Immang, Sekretaris ECC.

Sebelum berangkat, saya sempatkan cek kondisi tubuh di Puskesmas Baraka. Ada banyak warga yang antri disana. Untung ada suster yang baik hati yang mau melayani saya dengan senang hati. Saya harus mengecek kondisi tubuh sebab lima hari sebelum Tim Jelajah menjajal Lima Kecamatan, saya begadang terus menyelesaikan laporan. Tensi saya cukup bagus kata suster yang tidak mau menyebut namanya.

Tim jelajah sepeda meninggalkan Baraka saat panas sudah diatas kepala. Harusnya tim berangkat di pagi hari. Tapi kami harus menunggu Andy,Appang, Amri, Risal, dan Iccang, lima anggota ECC yang rencananya akan bergabung bersama menuju Bungin. Lama menunggu, Kami akhirnya putuskan untuk segera berangkat. Mereka menyusul naik ambulans. Sepeda bersama mereka diatas ambulans.

Baru ratusan meter sepeda dikayuh, tanjakan sudah menghadang. Stamina langsung terkuras. Jalan menanjak kami lewati sampai Desa Banti. Jalur Baraka menuju Banti jauhnya kurang lebih delapan Kilo meter. Jalan sudah beraspal hingga Pasar Banti. Tim sampat istiharat di Banti saat hujan rintik turun. Kami sibuk mencari kantong plastik untuk membungkus peralatan. Banti selama ini dikenal sebagai daerah penghasil bawang. " Banti menjadi daerah lumbung bawang di Baraka," kata Sandi.

lepas dari banti, jalan mulai berlubang-lubang. Jalan mulai berbeton saat masuk didaerah Titok sampai sapuko. Sebelum masuk Sapuko, Tanjakan tinggi sekitar lima ratus meter di Kaju Sangto membuat beberapa Tim mendorong sepedanya. Lepas dari tanjakan yang berbatsan dengan Sapuko, Sekcam Bungin, Ridwan Palembai bersama beberapa warga ikut menyambut. Ridwan juga membawa sepedanya dan bersama-sama mengayuh sepeda.

Masuk dusun Dea Kaju perbatasan bungin, kami melewati jalan berbatu dan menurun. Rantai sepeda sidik sempat bermasalah. Jalan yang berbatu kami lewati dengan aman.

Malam sudah mulai menampakkan dirinya saat kami masuk di Kecamatan Bungin. Jalan di Bungin sebagian besar belum terlalu bagus. Lima Teman dari ECC yang tiba dengan Ambulans mulai bergabung diujung tanjakan di Dusun Dante Durian. Kami bersama-sama mengayuh sepeda masuk Kota Bungin dengan jarak sekitar lima kilometer.

Camat Bungin A. Fadli Hakim menjamu kami di Rumah Jabatannya. Ia sempat meragukan kami bisa melalui jalur Baraka-BUngin dengan sepeda. " Sebelum teman-teman sampai, saya awalnya ragu kalian bisa masuk Bungin dengan naik sepeda," katanya.

Syaiful Panama yang biasa kami panggil Om Iful awalnya mengira akses jalan menuju bungin masih belum sebagus yang dilewati. " Saya pikir kita akan kesulitan, tapi jalan sudah bagus rupanya," kata Om Iful yang sudah delapan tahun menjadi penikmat sepeda.

Bungin yang berpenduduk 1.734 jiwa terdiri dari lima Desa yakni Desa Bungin, Tallang Rilau, banua, Bulo, Baruka, dan Sawitto. Bungin menjadi kecamatan Otonom sejak Tahun 2002. Mayoritas warganya bertani khusunya kopi. BUngin selain dikenal sebagai daerah Mandiri Energi, Bungin juga terkenal dengan kopinya. Pemerintah menggalakkan menyiapkan 30 Hektar lahan untuk peremajaan Kopi Arabika Typica.

Sebelumnya, Bungin menjadi daerah yang terisolir. Bahkan sempat dikatakan daerah buangan bagi PNS. " MUngkin karena dulu akses jalan susah sekali sehingga ada image itu, tapi sekarang kami sudah terbuka dan image daerah buangan tidak berlaku lagi," kata Fadli.

Dibungin, salah satu Desanya, Nating disebut sebagai penghasil Kopi arabika yang berkualitas baik. Tanahnya yang diatas 1400 Dpl sangat cocok untuk kopi semacam itu. Nating menjadi daerah ketiga yang akan ditembusi Tim Jelajah Sepeda.

Fadli yang baru tiga bulan menjabat mengatakan, masih banyak pekerjaan berat yang musti dilakukan untuk membuat wilayahnya bisa bersaing dengan kecamatan lainnya. Selain itu, Ridwan menambahkan desa-desa dibungin bisa dikategorikan sebagai desa tertinggal.

" Upaya memaksimalkan potensi daerah kami akan kami genjot terus," kata Fadli.

Ada kehangatan warga yang menyambut kami dibalik cuaca dingin Bungin. Alam yang memberikan air yang melimpah membuat Bungin terkenal dengan potgensi Listrik Airnya. Bupati Enrekang Haji La Tinro La Tunrung selalu menghimbau masyarakat Bungin agar menjaga alamnya. " Kedepan, Bungin bisa menjadi daerah yang menghasilkan listrik dari Air yang dapat memberikan kesejahteraan bagi warganya,"kata La Tinro suatu waktu saat bertemu dengan warga Bungin.

(Bersambung....)
Selengkapnya...

Jelajah Sepeda Lima Kecamatan ( Fajar Gorup dan ECC) Bagian Pertama

Sore sudah mau pergi saat Tim Jelajah Sepeda Keliling Lima Kecamatan kerjasama Fajar Group dan Enrekang Cycle Community berkumpul depan Asrama Rumah Sakit Massenrempulu. Direktur RSU Massenrempulu dr. Siswandi juga sudah muncul. Dokter yang juga penikmat sepeda itu melepas Tim dan bersama-sama menggoes sepeda. dr. Siswandi yang Pembina ECC mengantar hingga Kilometer sepuluh di Poros Malauwe. Di hari pertama, Tim jelajah sepeda pada akan menyelesaikan Rute Enrekang-Baraka dengan Jarak tempuh sejauh 30an kilometer.

Teman-teman ECC sudah melaju kencang, Saat keluar dari RSU. Saya bersama Sidik (Wartawan Fajar) keteteran dibelakang. Dan Fisik kami sudah harus diuji begitu lepas dari batas Kota. Tanjakan panjang sudah menghadang. Keringat bercucuran dan nafas ngos-ngosan.
" Gila, Jantung sudah tak beraturan detaknya," kata Sidik yang sudah ngos-ngosan padahal baru sekitar satu kilo rute kami jalanani.

Kami menghabiskan waktu sekitar sejam lamanya untuk sampai di Kilometer sepuluh. Rupanya, sekitar pukul enam, teman-Teman ECC sudah menunggu lama disana. Untung ada Sandi yang bergabung dengan kami. Dengan motornya, ia kadang menarik saya dan sidik jika sudah tak sanggup melibas tanjakan.Sandi menjadi Tim Evakuasi dan merangkap perlengkapan.

Ide Jelajah sepeda Lima Kecamatan ini muncul begitu saja. Tidak ada persiapan matang sebelumnya. Awalnya kami hanya ingin menulis tentang Bungin. Tapi ide berkembang jauh, dan kami mengundang ECC yang berpengalaman dengan kegiatan sepedanya untuk ikut bergabung. Kegiatan berkeliling kecamatan dengan sepeda mungkin yang pertama dilakukan di Enrekang.

ECC yang dihari pertama ini diwakili Irman Agam (Immang), Yunus Baharuddin (Yunus), Syaifullah Panama, Irwan Bone (Ibons) tak bisa kami kejar. Mereka sudah usai sholat Isya saat kami tiba di Kotu. Malauwe - Kotu dengan jarak lima kilometer kami tempuh

Magrib pun berlalu di Malauwe. Tim sholat di Mesjid Masaleu setelah dijamu makan malam di Hajatan keluarga Kabag Humas Abdul Gani. Usai makan, Syaifullah Panama menyusul Tim di Malauwe. Dokter Siswandi Muncul lagi dengan motornya.
" Wah, baru sampai sini, perjalanan ke Baraka Masih panjang, bisa sampai tengah malam," kata dr. Siswandi.

Tim kemudian melanjutkan perjalanan setelah lampu-lampu sepeda sudah dipasang. Sandi, tadinya menggantikan saya menggoes. Saya yang bawa motor. Sekitar lima ratus meter, sandi yang semangat sekali menggoes tiba-tiba berhenti.
" Saya tidak sanggup naik sepeda, sakit kekenyanganka ( Sakit perut karena terlalu kenyang)," kata Sandi. Saya kembali ambil kendali sepeda.

Perjalan panjang Lima Kecamatan awalnya ide iseng belaka. Ide ini digelontorkan Sidik. Ada kenekatan sebenarnya menembusi Lima Kecamatan dengan sepeda. Saya bersama sidik tidak punya persiapan fisik sebelumnya. Idenya hanya ingin menulis cerita ringan tentang bungin dan kopi saja. Tapi ide berkembang dan kami mengundang ECC untuk beegabung dalam jelajah sepeda ini.

Di Poros Lurah setelah Kotu, Teman-teman ECC lagi-lagi menunggu kami yang terus kedodoran menggoes. Jam sudah menunjukkan pukul depalan. Perjalanan Malam melibas poros Lurah menuju Cakke kembali dilanjutkan setelah kami cukup istirahat. " Masih ada satu tanjakan lagi sebelum dapat bonus," kata Immang, salah satu teman dari ECC. Bonus diistilahkan jalan menurun. Kalau sudah dapat bonus, kami teriak dan menikmati angin yang menampar wajah dengan dinginnya malam.

Bonus masih menyongsong kami hingga pasar Cakke. Rute Cakke-Baraka sepanjang 10 Kilometer yang gelap kami tembusi dengan lampu sepeda yang nyalanya sekepal tangan. Fisik sudah terlalu capek. Jalan yang kami lalui sudah dibeton. Di Saruran masih ada sekitar 200 meter yang berlubang belum diperbaiki. Mungkin susah diperbaiki sebab tanah disana masih sering longsor. Namun akses jalan sepenuhnya sudah tak ada masalah bagi kami menuju Baraka.

Disaruran, kecamatan Anggeraja masih ada beberapa warga yang membersihkan bawang merah di bawah rumah. Bawang merah yang saat ini harganya sekitar tujuh ribu masih menjadi tanaman primadona di Anggeraja dan Baraka. Petani bawang masih mengandalkan bibit dari Bima (NTB). " kalau bibit lokal hasilnya tidak terlalu bagus," kata Mama Immang, petani bawang. Selain bibit dari Bima, bibit bawang juga banyak berasal dari Surabaya dan magelang.

Malam pun hampir larut saat kami tiba dirumah Deki Kabara yang juga masih keluarga dekat saya. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih. Perjalanan panjang Enrekang baraka saya tempuh lima jam lamanya bersama sidik. Sementara Immang, Ibons, Yunus, Om Iful dan Surya kurang dari itu. Saat kami sampai, mereka sudah menikmati hidangan dari yang punya rumah. Mereka cepat sekali sampainya. Mereka tak punya kendala berarti dalam perjalanan. Fisik oke ditunjang latihan bersepeda selama ini membuat mereka enjaoi saja dalam perjalanan. Setelah berbincang-bincang sebentar, Tim istirahat untuk kembali siap-siap menuju Bungin yang lebih menantang jalurnya.

(Bersambung).....
Selengkapnya...

Sabtu, 27 Agustus 2011

KENDENAN, PULU MANDOTI DAN KAMPUNG LANDA (1)



Fajar sudah hampir menyingsing saat kami menikmati pemandangan nan eksotik di Desa Salukanan dan Desa Kendenan. Badan yang capek menelusuri perjalanan dari Enrekang menuju Desa Kendenan yang jaraknya puluhan kilometer itu terobati dengan keindahan pemandangan sawah yang hijau dan kekuning-kuningan.

Laporan : Naim Muhammad.

" Terima Kasih sudah mengajak saya kesini," kata Amoy, Penggiat Teater Galeri Macca yang ikut bersama kami. Sebagai orang Enrekang, Amoi baru melihat pemandangan yang sangat ciamik dipandang mata. Tak henti-hentinya ia meminta untuk di Foto dengan latar belakang Sawah.

Sawah yang menghijau itu adalah Sawah yang ditanami Padi Pulu (Ketan) Mandoti. Pulu Mandoti adalah Padi khas yang jika dimasak mengeluarkan aroma wangi. Saking wanginya, harumnya merambah ke tetangga hingga tiga rumah dari tempat kita masak. dan hanya di Desa Salukanan dan Desa Kendenan, Padi seperti ini bisa tumbuh.

Kepala Desa Kendenan Bakri Puttung yang rumahnya kami tempati menginap mengatakan, Desa Salukan dan Desa Kendenan diberkahi sehingga hanya di Sinilah padi itu bisa tumbuh.

" Pulu Mandoti adalah wangsit yang didapatkan dari Ilahi, karena hanya disinilah padi itu bisa tumbuh, dan Kami percaya itu, " kata Bakri.

Bakri menceritakan, Kendenan berarti persinggahan. Diambil dari asal kata Kende yang artinya singgah.

" Menurut cerita orang dulu, disini ada batu yang dipercaya menjadi tempat persinggahan nenek moyang kami yang pertama," kata bakri.

Bakri percaya, nenek moyang mereka itulah yang pertama membawa benih padi pulu mandoti. " Pulu mandoti ini sudah ada sejak dahulu kala," kata bakri.

Aroma Pulu Mandoti, kata bakri, pernah membuat Presiden Kedua RI, Soeharto terkesima. Karena aromanya itu, Sejak tahun 1986, saat era soeharto, beras Pulu Mandoti selalu menjadi Sajian di Pesta Kenegaraan.

Peritiwa yang membuat Soeharto kesemsem dengan Pulu Mandoti itu terjadi sekitar tahun 1986 saat salah satu anak soeharto menkah. Saat itu, ada warga yang bekerja di perusahaan anak soeharto yang membawa Pulu Mandoti. Saat disuguhkan, Soeharto mencium aroma ada aroma yang khas dalam sajian makanan. Ia menanyakan asal beras itu.

Mengetahui, asal beras pulu mandoti itu dari Kendenan, Soeharto memberikan bantuan 20 Sak semen untuk memperbaiki irigasi di Desa Kendenan. " Sebagai imbalan sawah disini bisa teriri dengan dan beras bisa selalu hadir saat ada pesta di istana," kata Bakri.

Kendenan, rupanya tidak hanya menyimpan cerita tentang Pulu Mandoti saja. Selain itu, di Kendenan tenyata ada perkampungan Landa, dimana di sana ada terbangun67 bangunan Landa. Yang menariknya, di Landa-Landa itu ada Padi yang tersimpan hingga Ratusan Tahun Lamanya.

Landa adalah lumbung tempat penyimpanan beras. Umumnya Beras yang disimpan disana adalah beras Pulu Mandoti. Ada Juga Beras Lambau. Lambau ini semacam beras ketan namun warnanya putih. Beras ini biasa dicampur dengan Pulu Mandoti saat dimasak agar Mandoti saat dimakan tidak terlalu liat.

" Walaupun tersimpan lama, beras itu tidak rusak, malah beras itu makanan yang sangat cocok bagi orang yang punya penyakit kolesterol,karena semakin tersimpan lama, kadar gula dalam beras itu semakin rendah " kata bakri.
Selengkapnya...

Sabtu, 30 April 2011

Nl WAYAN MERTAYANI AYAM DAN MIMPI JADI WARTAWATI


Dengan langkah malu-malu, Ni Wayan Merta-yani, 14 tahun, menemui sejumlah wartawan di Radio Netherlands Training Centre di Hilversum, Belanda, Kamis pekan lalu. Dia hanya mengenakan jumper- jaket tipis bertutup kepala-berwarna abu-abu, kaus oblong, dan sepatu kets. Matanya langsung berbinar melihat para kuli tinta menyingkirkan udara dan angin dingin yang berembus kencang menggigit kulit. Maklum, Wayan amat terobsesi menjadi wartawati.

Buku The Diary of Anne Frank, tentang Annelies Marie FVank alias Anne Frank, menginspirasinya untuk rae-matri cita-cita terse-but Dolly Amarhosoija, tuns asal Belanda. adalah orang yang memperkenalkan gadis asal Ban-iar Biasiantang, Desa Purwakerti. Kecamatan Abang. Karangasem, itu dengan sosok Anne yang menjadi korban Holocaust di Amsterdam, Belanda.

Tak cuma buku, Wayan juga meminjam kamera foto milik Dolly. Dia membuat 15 foto dengan kamera itu. Jepretan terakhirnya adalah sebuah potret pohon ubi karet denganda -han tanpa daun yang tumbuh di depan rumahnya. Seekor ayam bertengger di salah satu dahan, serta handuk berwarna merah jambu dan baju keseharian yang dijemur di bawahnya.

Tak dinyana, foto sederhana itu memikat 12 fotografer kelas dunia dari World Press Photo yang menjadi juri lomba foto internasional 2009, yang digelar Yayasan Anne Frank di Belanda. Tema lomba yang yang diikuti 200 peserta itu adalah “Apa Harapan Ter-besarmu?” Wayan menjelaskan, ayam itu simbolisasi diri dan kehidupannya. “Ayam itu kalau panas kepanasan, hujan kehu-janan. Sama seperti saya,” ujarnya.

Sulung dari dua bersaudara ini memang berasal dari keluarga miskin. Ibunya, I Nengah Kirem, 52 tahun, sudah bertahun menderita ginjal dan ha-rus bekerja serabutan. Ayah Wayan telah meninggal. Mereka tinggal di gubuk berdinding bilik bambu dengan satu kamar tidur.

Untuk menopang kehidupan, tiap sore hingga gelap menyergap, pelajar kelas HI SMP Negeri 2 Abang, Karangasem, itu berjualan kue jajanan di Pantai Kadang. Jika dagangannya laku, dia bisa memperoleh pendapatan hingga Rp 50 ribu. Tapi lebih sering dia rugi karena banyak yang tidak bayar. “Atau kalau tak habis saya makan sendiri, jadi ya rugi,” ujar Wayan tersipu.

Dia mengaku punya puluhan ayam dan bebek serta beberapa ekor kambing. Ayam-ayamnya pun dibiarkan berkeliaran tak dikandangkan. Terkadang Wayan harus menyabit rumput untuk memben makan kambingnya sebelum berjualan. Namun, di sela kehidupan keras yang dilaluinya, Wayan biasa meluangkan waktu dengan membaca di perpustakaan milik Marie Johana Fardan, tetangganya yang warga Belanda pemilik vila Sinar Cinta di Pantai Amed.

“Sudah dua tahun dia menjadi langganan tetap perpustakaan. Dia menyukai buku Anne Frank itu,” ujar Marie, yang mengantar Wayan dan adiknya, Ni Nengah Jati, terbang ke Belanda.

Negeri Kincir Angin menjadi tempat pertama Wayan mengenal dunia di luar Bah. Wayan mengaku .senang bisa menjejakkan kaki di Belanda, yang menurut dia bersih, ramai, meski cuacanya kurang bersahabat. “Senang tapi makanannya tidak enak, mentah-mentah. Lebih enak jajanan saya,” ujarnya disambut tawa hadirin.

Dari Yayasan Anne Frank, Wayan menerima hadiah berupa kamera saku dan sebuah komputer jinjing dari Radio Netherlands Wereldomroep. Rencananya, jika Yayasan Anne Frank mengadakan acara di Bali, dia akan diundang untuk memamerkan foto-fotonya. Radio Netherlands juga menawarkan tempat untuk Wayan mengirim cerita pendek atau tulisan-tulisannya untuk disiarkan.

Wayan berharap bisa menyelesaikan sekolah dan mewujudkan cita-citanya menjadi jumalis. Sepulangnya dari Belanda, ia mendapat kabar gembira berupa kelulusannya dari ujian nasional. “Saya ingin membahagiakan ibu saya,” ujarnya sendu. Matanya bulat menerawang. Dia sangat sadar kemiskinan mengancam kelanjutan pendidikannya. “Anne Frank lebih susah hidupnya. Jika dia tak mengeluh, saya juga seharusnya tidak,” ujarnya kemudian.

Sumber: http://bataviase.co.id/node/213068
Selengkapnya...