Selasa, 25 Maret 2008

Latimojong Jauh di Sana..

Rasa lelah yang menyergap Bupati Enrekang Haji La Tinro La Tunrung beserta rombongan setelah berjam-jam menempuh perjalanan menuju desa latimojong yang licin dan berlumpur oleh gerimis, terobati oleh sambutan warga, segarnya udara dan alunan musik bambu.

Setelah istirahat sebentar, beberapa pejabat Setda Enrekang ikut bergabung bergembira meniup bas bambu, ada yang menari-nari, sementara yang lain bertepuk tangan mengikuti alunan musik dan kadang tertawa melihat aksi dirigen yang kocak. Musik bas yang terbuat dari bambu adalah ciri musik tradisional Enrekang. Di Latimojong, musik bambu dialunkan untuk pesta dan saat mendirian rumah baru.

Kunjungan La Tinro ke desa Latimojong, kamis 20 Maret, adalah kunjungannya yang ketiga. La Tinro juga adalah bupati pertama menginjakkan kakinya di desa yang berada di bawah kaki gunung latimojong. Padahal sudah 13 Bupati yang memimpin Kabupaten Enrekang. Dalam kunjungganya ini, La Tinro menyempatkan bermalam sehari, merasakan dinginnya malam bersama warga.

Latimojong, bagi warga adalah berkah. Gunung yang tingginya 3.680 metar dan tertinggi di Sul-Sel, memiliki hutan yang lebat dan mengalirkan air yang jernih. Tanahnya yang subur oleh warga ditanami kopi, cengkeh, padi, tomat dan palawija. Tiap tahunnya, desa latimojong bisa menghasilkan 700 ton kopi dan 400 ton cengkeh. Sayang sekali, infrastruktur jalan membuat warga jauh dari akses pasar, hasil pertanian warga belum memberikan kesejahteraan.

Kopi adalah nyawa utama bagi warga di Latimojong. Agar produktifitas kopi dan kualitasnya bertambah, selain perbaikan jalan, warga juga meminta agar difasilitasi pabrik pengupas dan penggiling kopi.

Tokoh Masyarakat, Tahrim, dalam tatap muka bersama rombongan menyampaikan, warga selama ini merasa desanya terisolir. Hasil pertanian belum memberikan kesejahteraan yang berarti. “Pernah hasil pertanian kami dibuang percuma, membusuk di pinggir jalan karena mobil tidak mau masuk ke desa ini saat hujan datang,” kata Tahrim.

Bahkan, Tahrim melanjutkan, warga dusun Karangan, dusun terakhir sebelum mendaki ke Latimojong, sangat mendambakan ada mobil yang masuk. “ Saking pengennya melihat mobil masuk ke dusunnya, warga melakukan Swadaya dan terkumpul dana 85 juta untuk membuka jalan,” kata Tahrim.

Menuju Latimojong dirasakan juga oleh wartawan Fajar Kasman dan Wartawan RRI Lubis. Jalan yang licin dan berlumpur sering membuat mereka terjatuh. Belum lagi, salah sedikit, jurang yang terjal sudah menanti. “ Saya baru lihat medan seperti ini, jalannya licin, kaki saya jadi korban kena knalpot dan luka karena jatuh terus,” Kata Kasman.

Bupati Enrekang Haji La Tinro La Tunrung dalam sambutannya, mengungkapkan pemerintah akan mengusahakan memperbaiki jalan menuju desa. “ Saya juga kaget, kedatangan saya yang kedua lalu jalan tidak separah ini,” Kata La Tinro.

Di depan warga, La Tinro mengemukakan secepatnya akan berkordinasi dengan Bappeda untuk merencanakan perbaikan jalan dari dan menuju desa Latimojong. Selain itu, Pemerintah juga berusaha mencari pengusaha yang bisa menjadi Bapak asuh bagi para petani kopi. (Mg15)

2 komentar:

ayyung mengatakan...

biasa ji itu

kkk mengatakan...

perlu tuh