Mendung masih menggantung. Jam menunjukkan pukul 11.00 Wita. Eva (2) dan ibunya, Suarni (60), bergegas dari sumur tempatnya mandi menuju rumahnya. Fajar, mengabarkan pada mereka, PAREPOS ingin bertemu.
Fajar bersama temannya, Ahmad adalah dua pemuda Desa Ujung Indah, Pallanro, Kecamatan Mattirotasi, Kabupaten Barru yang berbaik hati mengantar dan menunjukkan rumah Eva, Rabu 10 Desember. Ujung indah adalah kampung tempat eva dilahirkan.
Eva, bocah dua tahun itu sempat dilarikan kerumah sakit beberapa waktu lalu karena kebiasaannya menghirup bau minyak tanah di jeriken. Dadanya Sesak. Beruntung nyawanya masih terselamatkan.
Setelah bertemu Eva dan ibunya, kedua pemuda itupun berlalu. Penulis tak lupa mengucap terima kasih. Kami pun bersalaman.
Suarni mengajak penulis naik kerumahnya, rumah panggung, bercat kuning yang tak jauh dari pelabuhan penyeberangan menuju ke Pulau Dutungeng.
" Ada apa ya," tanya Suarni saat saya merapatkan badan di sofa merahnya. Ada dua sofa diruang tamunya. Suarni duduk tepat didepan penulis, sementara Eva, hanya bersandar dipinggir sofa. Badan mereka masih ditutup sarung sampai dada. Namun saat gambarnya ingin diambil, suarni mencegat. " Sebentar, malu, saya pakai baju dulu," katanya. Eva yang rambutnya ikal tak mau dibaju.
Setelah kembali duduk, Suarni lalu menceritakan, kebiasaan Eva. Kebiasaan itu bermula akhir November lalu. Mulanya saat ia selalu memberikan jeriken kosong ke Eva untuk dibawanya saat akan membeli minyak tanah. Jarak penjual minyak tanah dari rumahnya berkisar 500 meter. Suarni tak menyangka, dibalik itu, Eva selalu menghirup jeriken itu.
" Mulai dari situ, setiap pagi, ia selalu mencari jeriken minyak tanah itu di dapur," kata suarni.
Setiap pagi, kata Suarni, saat bangun dari tempat tidurnya Eva langsung ke dapur mencari jeriken hitam bekas tempat oli bapaknya yang selama ini dipakai untuk menyimpan minyak tanah. Lewat lubang penutupnya, Eva memasukkan hidung dan mulutnya dan kemudian menghisapnya. " Ia mengisap sekira tiga sampai empat kali dalam beberapa detik, tidak lama, asal ia sudah hirup, jeriken itu ia simpan lagi," ungkap Suarni.
Tak pernah terlintas dipikiran Suarni untuk melarang anak bungsunya itu. Apalagi omongan para tetangganya yang mengatakan minyak tanah itu juga adalah obat, membuat suarni membiarkan Eva. Bapak Eva, Muh. Jafar pun tidak pernah komplain. " Ia juga biasa saja, tak mau melarang Eva, minyak tanah itu katanya obat" kata Suarni yang memiliki Empat Anak termasuk Eva.
Bapak Eva adalah sopir trek pengangkut kayu. Saat didatangi, Jafar sedang ke Makassar menghadiri resepsi pernikahan keluarganya.
Jeriken yang suka dihirup Eva adalah jeriken bekas tempat oli mobil bapaknya yang dipakai Suarni untuk menyimpan minyak tanah. Jeriken itu berkapasitas 5 liter. Tempatnya berwarna hitam. Minyak Tanah dipakai Suarni memasak jika gas untuk kompornya habis.
Sejak pemerintah membuat kebijakan konversi minyak tanah ke Elpiji, harga minyak tanah sempat melambung bahkan langka dipasaran. rakyat kecil selalu antri dibuatnya dan pemakaian untuk keluarga pun dibatasi. Sampai sekarang, harga minyak tanah berkisar Rp. 3500.
Kebiasaan Eva itu berlangsung hingga Desember. Suatu ketika, Eva tidak menyadari jeriken yang dihirupnya masih berisikan minyak tanah. Ia mengisapnya kuat-kuat sampai jeriken itu mengempis. Beberapa menit kemudian. dadanya sesak. Mulut tipisnya memutih. Suarni panik.
" Saya panik dan berteriak minta tolong," kata Suarni.
Tetangga dekatnya tak ada yang mendengar teriakannya. Beruntung, salah satu keluarganya lewat. Eva dilarikan ke Bidan yang ada di Desannya. Tak puas, Eva lalu dilarikan ke Puskesmas Pallanro. Puskesmas kemudian merujuknya ke RSU. A. Makkasau, Disana ia dirawat empat hari.
Selengkapnya...
Rabu, 10 Desember 2008
EVA, Anak Yang Suka Menghirup Jeriken Minyak Tanah (1)
Minggu, 07 Desember 2008
Idul Adha
Mungkin karena semalam begadang, aku ogah-ogahan bangun pagi. Suara takbiran sudah bergema dimana-mana. Orang-orang juga sudah beranjak menuju lapangan abubakar lambogo, tempat sholat Idul Adha dilaksanakan.
Akupun beranjak dari tidur. Mandi dan siap-siap. Jalan sepi, saat aku keluar. Hanya ada satu dua kendaraan melintas. Kupacu sepeda motorku menuju lapangan. Beberapa menit setelah sampai, sholatpun dimulai.
Orang khusuk bersembahyang. Di Mekkah sana, ribuan muslim juga melaksanakan hal yang sama. Ya, Idul Adha juga dikenal dengan Lebaran haji dan Idul Qurban.
Usai sholat, aku tidak sempat menangkap pesan Lebaran. Aku malah asik mencari obyek foto. Saat khutbah ustad masih berceramah, ditengah khutbah, satu persatu orang-orang ninggalin lapangan Batili. Entah apa yang mereka kejar.
Tidak seperti Idul Fitri, usai sholat, tak banyak tangisan warga yang terdengar, kecuali tangisan anak yang dicuekin ortunya saat sholat. Tak ada lagi peluk-pelukan saling memaafkan. Aura Idul Fitri dan Idul Adha memang agak beda.
Usai sholat, sampah-sampah koran berserakan. Orang-orang tidak sadar, bahwa meninggalkan sampah akan memberikan beban tugas pada orang lain. Dan artinya membuat orang-orang itu terlambat pulang hanya karena harus membersihkan sampah dahulu.
Manusia memang tidak sadar, dibalik keceriaan bersama keluarga, ada orang yang disusahkan.
Sampai dirumah, salam-salaman bersama keluarga. Setelah itu, kabur mencari kopi dirumah teman. Aktifitas orang lebih banyak ditempat pemotongan sapi atau kambing. Anak-anak yatim, pun menunggu hadiah daging.
Selengkapnya...
Jumat, 28 November 2008
Laskar Pelangi Mau Dijual
Foto-Foto Laskar Pelangi Saat Ganti Ban.
"Laskar Pelangi", begitu motor saya dipanggil teman2 di Parepos. Sapaan akrab itu melekat dibibir mereka sejak motor Suzuki Econos bekas pakai bapak saat masih PNS itu saya beri Stiker Laskar Pelangi. Motor itu sudah di Dom.
Kenapa Laskar Pelangi ?
Tak bukan karena inspirasi dari Andrea Hirata lewat karyanya tetraloginya Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Edensor yang habis saya lahap. Inspirasi itu, ingin terus saya lekatkan dengan diriku, maka, motor " Laskar Palangi" mewakili langkahku untuk mencari mimpi-mimpi seperti yang diungkap Laskar Pelangi.Tapi, pagi tadi, aku mendapat kabar, " Laskar Pelangi" akan dijual. Entah dengan alasan apa. Katanya, ada yang mau menawarnya. Saya disuruh segera ke Enrekang bersama Laskar Pelangi.
Ah, tak tega rasanya. Laskar Pelangi sudah lama menemaniku. Pernah saat masih di Bandung dulu, aku kangen ingin mengendarainya. Dan, pernah kupikir akan selalu merawatnya dan membuatnya motor antik. Tapi, ah sudahlah.
Selengkapnya...
Sabtu, 08 November 2008
Road Race Buat ENREKANG JADI RAMAI

.jpg)
.jpg)

Ada dua peristiwa yang membuat Kota kelahiranku, Enrekang tiba-tiba jadi Ramai. Peristiwa pertama adalah pelepasan Jemaah Haji, Ju'at malam,(07/11).
Mobil-mobil keluarga pengantar jemaah terparkir memenuhi jalan diseputaran Jalan menuju Gedung Natiromata tempat Pelepasan. Bahkan sampai dipinggir Lapangan Bola Abu Bakar Lambogo. Macetpun kadang tak terhindarkan.
" Wuiihhh,Enrekang jadi ramai," Kata Sopir Mobil yang membawaku dari Parepare saat melintas dijalan Siliwangi.
Peristiwa keramaian yang kedua adalah perhelatan para rider jalan di road race piala Bupati Enrekang H.La Tinro La Tunrung, Sabtu (08/11). La Tinro adalah Bupati yang kembali dipilih masyarakat Enrekang.
Aura Roadrace membuat banyak orang diluar arena balap tiba-tiba seperti pembalap sungguhan. Motor di gas kencang-kencang. Tak peduli banyak anak-anak dan pengendara lain dijalan. Aturan dijalanpun kadang dilanggar.
Roadrace seperti ini pernah diadakan La Tinro Bulan Juli lalu sebelum musim kampanye berlangsung di Pilkada lalu.
"Mudah-mudahan, Roadrace bisa berlanjut jika yang terpilih nanti adalah saya,"Ungkap La Tinro yang didaulat berbicara saat penutupan Roadrace lima bulan lalu.
Roadrace juli lalu memang digelar sebagai pemanasan untuk kampanye. MC dalam setiap katanya dalam Roadrace lalu selalu meneriakkan nama La Tinro sebagai Pemimpin Enrekang yang berhasil dan pantas dipilih kembali. Saat itu, La
Tinro, belum memilih Nur Hasan, sebagai wakil yang akan mendampinginya di Pilkada Bupati periode 2008-2013.
Selengkapnya...
Senin, 29 September 2008
Kumpul Keluarga
Suasana Lebaran tahun ini di kampung terasa berbeda. Cucu-Cucu ibuku dari anak dan Sepupu yang bertahun-tahun tidak datang berlebaran, melengkapi riuh rendahnya rumah.
Ada Danan,membawa indah istrinya dan Nanda anaknya yang lucu dan ganteng. Nana bersama Bintang dan Sultan anaknya ditemani Bapaknya Muslimin. Menyusul Rudi, dan Sus bersama dua anaknya Rani dan Nabila.
Hanya Kak Heri,Istrinya Uyu, Dua Anaknya Ayu dan Ica dan Istriku Endang dan Anakku Sagita yang tidak datang. Heri berada di Pulau Namblea Pulau Buru dan Istri dan Anakku di Bandung. Namun keceriahan masih bisa terasa. " Kan bisa langsung nelpon dan Sms-an.
Selengkapnya...
Rabu, 10 September 2008
Mendaftar ke Upeks
Beberapa bulan kemarin, Harian Tribun Timur, Seputar Indonesia, Fajar dan Ujungpandang ekpres (upeks) membuka lowongan. Saya mengirim lamaran ke semua Koran itu. Dari semua lamaran yang saya kirim, saya terpamggil ikut test di Harian Upeks.
Kabar lulusnya saya datang dari teman yang juga ternyata memasukkan lamaran. Pengumunan keluar hari Sabtu, 06 September. Semua yang lulus berkas, diminta datang ikut test tertulis, Selasa, 09 September.
Kabar lulusnya saya di Upeks ternyata juga singgah di Kantor saya sebelumnya Harian PAREPOS. Saat saya di Makassar, saya ditelepon Ka Ical, Pimred PAREPOS. Ka Ical mengecek kebeadaan saya. Di PAREPOS juga berkembang, kependahan saya karena perselisihan yang selalu terjadi antara saya dengan kawan PAREPOS di Biro ENrekang.
Kenapa saya harus Pindah ? Bukankah PAREPOS juga adalah sebuah Harian yang juga sama dengan Upeks ?
Semua orang selalu ingin mencoba pengalaman yang baru dan pastinya memikirkan karir. Saya memutuskan untuk pindah karena saya ingin mendapat sesuatu yang baru dan tantangan baru ditempat yang baru.
Sudah hampir satu tahun lebih saya bergabung dengan PAREPOS. Disana saya mendapat banyak pelajaran, terutama pelajaran bagaimana harus berkelit diantara teman yang tidak punya keinginan untuk tumbuh bersama. PAREPOS saya lihat mengajarkan kita untuk menjadi individualistis. Bukan bekerja secara Tim dan inilah yang selama ini saya rasakan kurang dari PAREPOS.
Dan kesempatan tidak datang dua kali. Kesempatan di Upeks harus saya maksimalkan untuk menjadi yang terbaik.
Selengkapnya...
Selasa, 26 Agustus 2008
Bermain Teater Lagi

Mimpi untuk mementaskan pertunjukan teater di kota Enrekang akhirnya dapat terwujud. Adalah Macca Community Theatre (MCT) yang berani dan nekat melakukan ini. Pada pementasan perdananya yang berlangsung selama dua malam, Sabtu dan Minggu 23-34 Agustus itu, MCT mengangkat naskah " Ketika Ratu Sakit " karya Pierre Fourre.
Walapun perdana dan aktornya juga anak SMA yang baru belajar teater, tapi semangat mereka (Dian,Eva,niken,Vicka,Fitri) dibantu Fadli "Bumi" membuat pementasan ini berjalan dengan baik dan mendapat apresiasi yang cukup baik dikalangan sekolah.
Teater adalah barang baru di Enrekang. Perhatian pemerintah terhadap perkembangan seni khususnya seni teater hampir tidak ada. Belum lagi Gedung Natiromata yang dipakai untuk pementasan, tidak layak disebut gedung pertunjukan. Selama ini, gedung yang satu-satunya gedung terbesar selain gedung Dharma Wanita itu banyak dipakai untuk kegiatan Bulu Tangkis dan Tenis Meja.
Dan setelah pementasan, apakah kehidupan perteateran dikalangan siswa dapat Eksis ?
Kalau melihat respon sekolah terhadap pengembangan diri anak didiknya dibidang seni teater, kemungkinan untuk eksis ada. Dari tiga sekolah yang kami tanya, SMU Negeri 1, SMU Muhammadiyah dan SMK PGRI, semuanya menginginkan ada ekskul teater disekolahnya. Namun persoalan mereka hampir sama. Tidak ada orang yang dapat membimbing mereka.
Ya, persoalan pembimbing. Selama ini yang pernah menggeluti dunia teater di Enrekang hanya segelintir orang, itupun sudah pada udzur dan yang mau kembali untuk menghidupkan teater hanya Pak Eli saja. Pak Eli yang dulu menjadi pembina Sanggar Merah Putih saat masih Dinas di Penerangan Dulu. Selain itu, hanya ada Saya, Kak Tamar yang lulusan STSI Bandung. Lainnya itu, Entah kemana rimbanya.
Tapi biarlah waktu yang bicara merubah semua itu, saya yakin dengan komposisi yang ada saat ini, MCT sudah membuat fondasi untuk menghidupkan lagi dunia seni khususnya dunia teater di Bumi Massenrempulu. Semoga perhatian pemerintah juga ada untuk merespon kehidupan berkesenian anak muda Massenrempulu. Amiiiiiiiiiiin.
Selengkapnya...
MCT Pentaskan Naskah "Ketika Ratu Sakit"

ENREKANG--Siswi SMU PGRI yang tergabung dalam Macca Community Theatre MCT akan mementaskan naskah drama dalam bentuk pertunjukan teater, Sabtu 23 Agustus. Pertunjukan teater ini akan berlangsung dua malam hingga minggu malam.
Sutradara sekaligus koordinator MCT, Lapanre Putra Langit, yang ditemui, Jum'at, 22 Agustus mengatakan pementasan yang membawakan naskah saduran dari pengarang francis dengan judul "Ketika Ratu Sakit" ini berkisah tentang pencarian kemeja orang yang bahagia oleh penghuni istana.
" Kami sengaja mengangkat kisah-kisah ini sebagai suatu refleksi ditengah masyarakat yang saat ini sedang dilanda kesedihan ditengah kondisi ekonomi yang suram," Kata Lapanre.
lapanre mengatakan, gambaran suramnya kondisi perekonomian membuat banyak orang yang kehilangan akal sehatnya. Sehingga untuk mencari kebahagian bukan lagi prioritas. " Sepertinya orang-orang sekarang terlalu sibuk mencari kekuasaan dan duit," Kata Lapanre.
Dalam pementasan ini, Lapanre mengatakan, pementasan perdana MCT ini walaupun hanya dengan mengandalkan dana yang minim tapi semangat para siswi untuk tampil luar biasa. Pementasan ini juga didukung Zmada Zone yang peduli terhadap perkembangan dunia anak muda Enrekang.
Lapanre berharap, pemerintah memberikan ruang bagi anak muda Massenrempulu dalam berkreasi. Pementasan teater yang baru terjadi lagi di Bumi Massenrempulu ini, juga diharap sebagai tanda adanya aktifitas anak muda dalam mengisi pembangunan. (Mg15)
Selengkapnya...
Kamis, 07 Agustus 2008
Tinro Pimpin Lagi Enrekang



ENREKANG--Senyum ceria dan lambaian khas Muslimin Bando bersama wajah tegas Umar Leha yang banyak menyapa warga Enrekang selama tahapan Pilkada, tidak tampak di gedung Natiromata Enrekang, Kamis 07 Agustus saat Pleno KPUD tentang penetapan pemenang Pilkada Kabupaten.
Gedung natiromata yang menjadi saksi penentapan La Tinro juga tidak bergemuruh lagi menyebut angka satu dan tiga seperti saat debat kandidat beberapa waktu lalu. Pihak pengamanan yang ketat melakukan pengamanan saat acara berlangsungpun terlihat santai.
Muslimin Bando dan Umar Leha adalah calon Bupati Enrekang dan menjadi pesaing Haji La Tinro La Tunrung yang ditetapkan KPUD Enrekang sebagai pemenang Pilkada dengan raihan suara sebanyak 45.460 suara atau sebesar 45,14 persen. Hasil yang diraih Muslimin Bando adalah 31.184 atau 30,96 persen, dan Umar Leha 24.066 atau 23,90 persen.
Ketidakhadiran kedua Calon Bupati itu terkait dengan ketidakpercayaan mereka pada proses Pilkada yang mereka Klaim banyak menimbulkan kecurangan. Namun, secara keseluruhan, proses Pilkada ini dinilai positif bagi pihak pengamanan, pemerintah dan KPUD.
Ketua KPUD Enrekang, Tamsil Koto mengatakan, pada awal tahapan Pilkada, semua kandidat menyatakan siap menang dan siap kalah, namun kedewasaan politik belum tergambar dengan ketidakhadirian kedua kandidat.
Namun, Kata Tamsil, ketidakhadiran para kandidat tidak mempengaruhi keabsahan hasil pleno KPUD.
" Walaupun dua kandidat tidak hadir, namun hasil pleno KPUD yang menentapkan Haji La Tinro La Tunrung-Nur Hasan sebagai pemenang tetap sah," Kata Tamsil.
Keputusan KPUD yang menetapkan Pasangan Halalan-Hasanah sudah diduga sebelumnya setelah LSI yang dalam perhitungan cepatnya juga memenangkan pasangan nomor urut II ini.
La Tinro saat menggelar jumpa pers mengatakan rasa terima kasihnya kepada masyarakat yang masih memberikan kepercayaan padanya untuk memimpin kedepan bersama pasangannya Nur Hasan. La Tinro juga mengajak para kandidat lainnya untuk sama-sama membangun Bumi Massenrempulu.
" Menjadi pemimpin memiliki tanggung jawab yang besar dan kepercayaan masyarakat ini akan saya pergunakan sebaik-baiknya untuk membangun Massenrempulu lebih bhaik lagi," Kata La Tinro yang mengukir sejarah menjadi Bupati yang memimpin Enrekang Dua Periode.
Terkait dengan rencana ke depan, la Tinro tidak menyebutkan akan langsung bekerja dan tidak punya prioritas seratus hari masa kerjanya.
" Tidak ada seratus hari, kalau bisa hari ini bekerja, saya akan lakukan yang terbaik hari ini," Kata Tinro.
Selengkapnya...
KPUD Beri Waktu 3 Hari untuk Masukkan Gugatan

ENREKANG--Setelah menetapkan pasangan Haji La Tinro La Tunrung-Nur Hasan sebagai pemenang Pilkada, KPUD Enrekang, Jumat (Hari ini) memberi waktu kepada kedua kandidat untuk melakukan gugatan jika merasa tidak menerima hasil Pilkada.
Tiga Anggota KPUD Yusuf Saha, Amran Martin dan Ahmar Sutansi mengatakan jika kedua kandidat merasa ada yang tidak benar dalam proses pilkada dan memiliki bukti dan mengajukan gugatan maka KPUD memberi waktu selama tiga hari untuk memasukkan gugatannya.
" Asal mereka memiliki bukti yang cukup dan merasa keberatan dengan hasil penetapan KPUD, dua kandidat kami beri kesempatan untuk melakukan gugatan," Kata Amran Martin.
Senada dengan itu, Yusuf saha menambahkan, proses gugatan pihak yang tidak menerima Hasil Pilkada adalah wajar dan KPUD siap menerima gugatannya selagi itu dilengkapi dengan bukti yang benar.
Sebelumnya, Juru Bicara Hulapa Arsoni dan Juru Bicara Hambamu mengatakan tidak menerima apapun hasil yang ditetapkan KPUD Enrekang. Mereka melihat, selama tahapan pilkada, banyak kecurangan-kecurangan yang terjadi dan tidak mendapat perhatian serius oleh KPUD dan Panwas.
Ketua Panwaslu Enrekang Arifin Ali yang ditemui terpisah mengatakan banyak temuan dan surat pengaduan yang masuk ke Panwas selama Pilkada antara lain adanya pelanggaran Kampanye dengan Lintas Zona dan pelibatan anak dibawah umur yang dilakukan tiga kandidat.
" Namun dari semua pelanggaran yang ada, tidak ada indikasi pelanggaran Pidana,kalaupun laporannya ada yang masuk ke Panwas, itu tidak bisa dibuktikan dan tidak ada saksi dan pelapornya," Kata Arifin.
Arifin menjelaskan, pelanggaran Pilkada apakah itu pelanggaran Administrasi dan Pidana bisa diteruskan jika memiliki tiga unsur, ada pelapor, ada saksi dan ada Bukti.
" Selama ini, banyak kasus aduan yang masuk ke Panwas tapi tidak ada yang berani menunjukkan siapa pelapornya, siapa saksinya," Kata Arifin.
Beberapa pelanggaran yang ditemukan maupun yang masuk ke Panwas adalah bagi sembako Murah dihari tenang, pencemaran nama baik, keterlibatan PNS dalam kampanye, black campaign lewat brosur.
" Ada yang sudah kita proses dan teruskan ke KPUD dan Pemerintah, ada juga yang sulit kita dapatkan saksi dan pelapornya sehingga tidak bisa diteruskan untuk diproses," Kata Arifin.(Mg15)
Selengkapnya...